adaapa

Posted: May 15, 2012 in Uncategorized

Tidak ingin lagi bertanya ada apa.

Karena saya tahu, kamu tidak akan lagi berikan jawaban.

Terlalu banyak saya ingin tahu, terlalu banyak saya bertanya, terlalu sering saya akan tidak mendapatkan apa-apa dari kamu.

Apapun.

Terima kasih sudah membuat saya mencoba untuk menjaga semua yang saya rasa.

Nikmatnya Perjalanan

Posted: May 13, 2012 in Uncategorized

Bukan karena berita duka Sukhoi yang sedang jadi berita di media atau karena saya sedang dalam perjalanan dengan kereta api Taksaka menuju Jogja.
Saya hanya teringat ingin menuliskan rasa yang pernah saya alami.
Yak! tentang kendaraan umum jarak jauh.

Bepergian ke luar kota sudah saya alami sejak kecil dulu. Karena saya dan orang tua tinggal di Bogor dan nenek kakek dan semua keluarga besar kami tinggal di Jogja, maka kami pasti pergi bersilaturahmi, setidaknya satu tahun sekali ketika Hari Raya.

Karena kami tidak mrmiliki kendaraan pribadi saat itu, dan naik pesawat itu terlalu mewah bagi kami, maka pilihannya adalah naik bus malam atau kereta api.

Pilihan yang menurut kami untuk beberapa tahun lamanya itu adalah Bus Malam.Berbagai macam PO bus malam kami coba. Yang pastinya kami memilih bus.patas AC demi kenyamanan dan keamanan. Dari harga masih dibawah 100ribu sampai kini 180ribu-an. Kami masih suka menggunalan jasa transportasi itu.u Bogor – Jogja/Solo. PO Mulyo Indah namanya. Bus nyaman. lengkap dengan selonjoran kaki, bantal dan selimut serta toilet.

Kami dulu pernah merasakan naik kereta. Saat itu kami menggunakan kereta api bisnis Senja Utama. Saya tidak tahu berapa harganya saat itu, sekarang sih setau saya sekitar 150ribu-an mungkin ya. Kereta itu membuat saya agak sedikit trauma sebenarnya. Pengelolaan yang tidak baik atau karena terdesak saat arus mudik lebaran, yang jelas saya saat itu kesal sekali dan memutuskan tidak akan naik kereta api lagi. Saat itu kereta penuh dengan orang-orang tanpa nomer tempat duduk. Mereka duduk seenaknya di area sirkulasi. Bahkan sampai di tangan kursi kami. Sungguh menyebalkan. Dan gangguan entah apa yang menyebabkan kereta kami telat hampir 10jam lamanya. Yang seharusnya tiba pukul 07.00, kami tiba pukul 17.00. Bahkan saya ingat sekali saat itu petugas peron sampai salah menyebutkan “Telah tiba di jalur 4 Kereta bisnis Fajar Utama.” meeeeeeennn…gue naik kereta Senja Utama meeeeenn… udah berangkat dari tadi malem meeeeennn…

Hahaha..forget it!

Saya itu pecinta perjalanan. Apapun yang bergerak di luar kaca jendela atau yang bisa saya lihat langsung dengan bebas dari mata saya, saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak menyia-nyiakannya. Saya penikmat perjalanan.

That’s why jikalau tidak mendesak atau dalam keadaan diwajibkan, saya tidak mau naik pesawat. Bukan saja karena saya takut. Iya saya takut naik pesawat. Meski tidak setakut yang kalian bayangkan ya. Saya cuma jadi sering berangan-angan negatif jika dalam pesawat. Karena saya tidak bisa lihat apapun dari dalam  pesawat. Sejauh mata memandang hanya akan ada gumapalan putih awan, secercah garis dari sinar matahari, atau bahkan hanya hitamnya langit malam ditemani kilatan cahaya dari lampu di sayap pesawat. Buat saya, pesawat itu bukan media yang menyediakan kenikmatan perjalanan. Penuh ketegangan di setiap perjalanannya. Take off, menegangkan. Di atas ketika pesawat berguncang menabrak gumpalan awan, menegangkan. Landing, menegangkan.

Kita ga pernah tahu apa yang ada di depan. Hanya pilot dan Tuhan yang mengerti. Hahaha..
Yaaa saya tahu, kereta juga begitu. Ada di gerbong satu saja kita tidak.bisa meilihat seperti apa yang dilihat masinis. Tapi at least saya masih bisa menikmatinya dari kaca jendela. Itu.kenapa saya suka memilih tempat duduk di samping jendela.

Seperti malam ini.
Di dalam kereta api eksekutif taksaka, alunan musik, blogging, dan semua cerita yang disajikan bergerak di luar kaca jendela selama perjalanan Jakarta-Jogja. Ini nikmatnya perjalanan, dude!

dan kita pernah berada pada waktu yang singkat dimana mata kita saling menatap.
tanpa senyuman.
tanpa suara.
hanya saling menatap.
entah apa di pikiranmu.
apa di pikiranku.
transfer rasa mungkin.
rasa yang masih belum bisa dideskripsikan sampai kita  bersuara di tempat yang sama berdua.

Extrovert (E) : kamu punya masalah ya?
Introvert (I) : siapa bilang?
E : gak ada
I : lah, kok nyimpulin sendiri kalo aku ada masalah?
E : hmmm….
I : lagian kalo ada masalah juga kamu ga bakal aku ceritain..
E : hahaha..dari namamu aja udah ketahuan kamu ga mau cerita. Tapi aku tau kalo kamu punya masalah…
I : sok tahu..
E : iya aku sok tahu. Dan kamu yang oaling pintar. Kamu pintar menyembunyikan apa yang terjadi sama kamu. Sedih gak ditunjukin. Seneng melulu.
I : ada yang special?
E : iyalah. aku kalo badmood keliatan banget. biasanya bawel terus bisa tiba-tiba gak bersahabat.
I : kaya hari ini?! Murung mendadak.
E : habisnya sedih kamu ga mau cerita sama aku..
I : tenang aja.. suatu saat aku pasti cerita sama kamu. Ketika aku sudah percaya sama kamu dan namamu.
E : janji?
I : lamun teu hujan..
E : jahaaaaaaattt….

Bukan hal yang luar biasa.
Hanya saja, saya tidak biasa.
Mungkin saja saya juga sedang dalam keadaan yang biasa.
Biasa menghadapi hal yang biasa.
Lalu tiba-tiba jadi tidak biasa.
Berujung pada pemikiran luar biasa.

Soal kendaraan.

Selama di jogja, beberapa hal yang mengganjal di otak saya, ingin saya sampaikan malam ini.
Soal kendaraan.

Awal saya di Jogja, saya naik kendaraan umum. Tapi ternyata tidak berlangsung lama. Iya, mereka semua memaksa saya untuk memiliki kendaraan pribadi. Sepeda, sepeda motor, mobil. Yang jelas tidak sampai memiliki bis. (yakali yowww).

well..mereka itu siapa? mereka itu adalah keadaan di Jogja itu sendiri. Waktu dan tempat kerja saya yang tidak bisa bekerjasama dengan sistem transportasi disini. Jogja yang kendaraan umumnya jauh lebih sedikit daripada Bogor dengan seribu angkotnya. Jogja yang menjadi kota sunyi dengan jalan tak berpenghuni jika jam sudah nangkring diatas jam 8 malam. Jogja yang akhirnya dipadati oleh kendaraan pribadi. Roda dua bermesin lebih tepatnya.

Hanya satu bulan pertama saya mencicipi rasanya naik kendaraan umum. Selanjutnya, here.we.are. Me and My White Beat. 

Dari sini juga saya mulai peka sama tingkah polah pengguna jalan umum. Pengendara yang punya kontrol sendiri atas apa yang dikendarainya. Pengendara yang tidak sabar. Pengendara yang semena-mena di jalanan. Pengendara yang mudah tersulut emosi. Pengendara yang tidak taat peraturan.

Menuju ke kantor, saya punya dua rute berbeda. Lewat “jalan tol” dengan 4 traffic light atau lewat rute kota dengan 9 traffic light. Rute pertama itu saya rasa para pengguna jalan yang taat. Semua tata tertib di jalan sangat diperhatikan. Mungkin karena ini merupakan jalur antar kota. Jalan-jalan besar. Traffic yang cukup busy.
Entah kenapa, lewat rute 2 sangat banyak saya rasakan “kenakalan” pengguna jalan ini. Dimulai dengan menerobos traffic light dengan semena-mena, atau memaksa pengguna jalan lainnya untuk menerobos traffic light. Mereka yang mungkin tidak sabar ingin sampai kerumah untuk memeluk anak istrinya, membunyikan klakson dengan tidak sabar saat tidak ada kendaraan lain yang melaju dari seberang traffic light yang berwarna hijau. Padahal mereka lihat sendiri, traffic light di depan mereka masih merah. Mengapa Anda membunyikan klakson Anda? Klakson Anda baguskah?! Merdu ya?! Preeeett….

Saya jadi ingat. Dulu saya pernah dibonceng teman saya naik motor. Di daerah mana saya lupa, disaat traffi light sudah akan mencapai angka 0 hijau dan siap berganti kuning lalu merah, teman saya malah melaju dengan kencang. Saya ingat kalimat yang dia ucapkan. “Kalo gak gini, nanti kena merah lama banget yow. 3menit lebih, Yow!”
Ada yang salah kah dengan menaati peraturan lalu lintas selama 3menit? Saya tahu, waktu itu adalah uang. Waktu itu berharga. Tapi harus ya traffic light itu dilanggar? bukankah demgan semua sisi perempatan atau pertigaan jalan yang traffic lightnya dilanggar, malah bakal jadi traffic jam? ohnoooo….

Tapi jadi ingat juga Ibu saya pernah bilang.
“Ada peraturan baru ya? Kalo dulu di buku pengetahuan umum, Hijau artinya jalan. Merah artinya berhenti. Kuning artinya hati-hati. Sekarang kuning itu artinya Dipercepat ya. Kalo hati-hati malah diseruduk dari brlakang itu…”

Yap! Semoga mereka yang masih merasa peraturan dibuat untuk dilanggar, bisa mulai mengerti untuk apa peraturan itu dibuat….

(just speak up my mind)

image

Hijau itu selalu tumbuh menggapai biru.
Bukan biru yang lalu mengharu.
Bukan biru yang kelabu.
Bukan juga biru yang membeku.

Tapi Biru adalah Kamu.
Biru penuh senandung bersatu.
Biru tanpa dentuman sendu.
Biru dengan simfoni merasuk kalbu.

lalu. Biru.
Yang tidak pernah bertemu,
hijaunya aku.
Melayu, menghirup debu.

Lalu.
Kapan kah kau datang hai Merah Jambu???